Rakor LTT di Banjarangkan; Menjaga Irama Tanam Padi di Tengah Perbaikan Irigasi
Kamis, 15 Januari 2026 - Dilaksanakan rapat koordinasi LTT Padi di Kecamatan Banjarangkan, Klungkung. Kegiatan ini menjadi forum penting untuk menyamakan persepsi, menyampaikan kondisi lapangan terkini, serta merumuskan langkah antisipatif terhadap berbagai kendala yang dihadapi petani dan pengelola subak.
Komang Widiarta, petugas data Kabupaten Klungkung, menyampaikan Kecamatan Banjarangkan memiliki target penanaman padi seluas 3.063 hektare. Angka ini menunjukkan bahwa Banjarangkan merupakan salah satu sentra produksi padi yang memiliki peran penting dalam pencapaian target LTT di Kabupaten Klungkung. Potensi tersebut tidak hanya didukung oleh luas baku sawah, tetapi juga oleh keberadaan sistem subak yang masih aktif dan berfungsi sebagai pengatur irigasi serta kalender tanam secara kolektif. Namun demikian, realisasi tanam di lapangan sangat dipengaruhi oleh kondisi infrastruktur, terutama jaringan irigasi.
Hasil rapat koordinasi mengungkapkan bahwa pada awal tahun 2026 terdapat fenomena mundur tanam di beberapa wilayah subak di Kecamatan Banjarangkan. Mundur tanam ini bukan disebabkan oleh rendahnya minat petani, melainkan sebagai dampak langsung dari perbaikan jaringan irigasi yang sedang berlangsung.
Beberapa subak yang terdampak perbaikan jaringan irigasi antara lain, Subak Nyanglan, dengan rencana tanam pada bulan Februari 2026, Subak Timuhun mengalami perbaikan jaringan irigasi dengan luas terdampak sekitar 112,66 hektar, dan direncanakan tanam pada periode Februari–Maret, Subak Aan Dangin Desa juga sedang menjalani perbaikan jaringan irigasi. Subak Pau, terdampak perbaikan jaringan irigasi terutama di Tempek Babakan Suata, namun di Tempek Bangpegulingan rencana tanam sudah bisa di bulan Februari. Subak Tegehan, juga masih terdampak perbaikan jaringan.
Secara keseluruhan, tercatat tujuh subak di Kecamatan Banjarangkan mengalami perbaikan jaringan irigasi. Kondisi ini berdampak pada penyesuaian jadwal tanam, sehingga sebagian areal belum dapat ditanami sesuai rencana awal. Dalam sistem pertanian padi, irigasi merupakan faktor penentu utama keberhasilan tanam. Ketersediaan air yang cukup dan berkelanjutan sangat memengaruhi keputusan petani untuk mulai menanam. Oleh karena itu, perbaikan jaringan irigasi meskipun berdampak pada mundur tanam dalam jangka pendek, sesungguhnya merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan produktivitas dan stabilitas tanam di masa mendatang.
Rapat koordinasi menegaskan bahwa mundur tanam akibat perbaikan irigasi perlu dipahami sebagai bagian dari proses penataan sistem pertanian yang lebih baik. Dengan jaringan irigasi yang berfungsi optimal, risiko puso, kekeringan, maupun konflik distribusi air antar subak dapat diminimalkan. Salah satu poin penting yang mengemuka dalam rapat koordinasi adalah perlunya sinkronisasi kalender tanam antara kondisi teknis di lapangan dengan target LTT yang telah ditetapkan.
Koordinasi antara petugas lapangan, penyuluh pertanian, pengurus subak, dan pemerintah daerah menjadi kunci agar penyesuaian jadwal tanam tetap tercatat dan terlaporkan secara akurat.Pendataan LTT yang baik akan memastikan bahwa meskipun terjadi mundur tanam, luas tanam tetap dapat dihitung dan dievaluasi sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Hal ini penting agar capaian LTT tidak hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar mencerminkan aktivitas pertanian yang berlangsung.
Meskipun menghadapi tantangan berupa perbaikan irigasi dan mundur tanam, Kecamatan Banjarangkan tetap memiliki peluang besar untuk mencapai target LTT padi tahun 2026. Dengan potensi tanam yang luas dan komitmen petani yang tinggi, percepatan tanam pasca selesainya perbaikan jaringan irigasi menjadi strategi utama yang perlu dikawal bersama. Rapat koordinasi ini menjadi bukti bahwa pendekatan partisipatif dan berbasis data lapangan sangat penting dalam pengelolaan LTT. Dengan komunikasi yang baik dan langkah antisipatif yang tepat, tantangan di lapangan dapat diubah menjadi peluang untuk memperkuat sistem pertanian padi yang berkelanjutan.
Rapat Koordinasi LTT Padi di Kecamatan Banjarangkan bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang strategis untuk memastikan bahwa setiap hektar sawah dapat berkontribusi secara optimal terhadap ketahanan pangan daerah. Perbaikan irigasi yang sedang berlangsung diharapkan menjadi fondasi kuat bagi peningkatan produktivitas padi ke depan, sekaligus menjaga keberlanjutan sistem subak sebagai warisan pertanian yang adaptif dan tangguh. Dengan sinergi seluruh pemangku kepentingan, Banjarangkan diharapkan tetap menjadi salah satu penopang utama LTT padi di Kabupaten Klungkung.
(Sutami, dkk)